Perbatasan Tak Mudah Panas

Image
Ditengah hingar-bingar pemilihan Putri Indonesia dan kontes menyanyi X-Factor, Pada Jumat (1/2), Kick Andy on Location bercerita tentang masyarakat perbatasan lewat Inspirasi dari Jantung Borneo. Talkshow  ini menjadi menarik karena menampilkan apa yang selama ini tak pernah kita lihat. Bagaimana kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia dapat hidup rukun di jantung Pulau Kalimantan, tepatnya di Krayan, Kalimantan Timur.
Saya jadi teringat obrolan panjang saya dengan seorang teman pada masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Bermula pada sebuah observasi awal untuk menentukan program kerja KKN, saya berkenalan dengan Yusuf, seorang penduduk lokal Sei Pancang, salah satu daerah teramai di Pulau Sebatik. Yusuf bekerja sebagai Tukang Ojek yang sehari-hari mengantar penumpang keluar-masuk Dermaga Sei Pancang. Jika penumpang sedang sepi, ia akan duduk santai di dermaga. Disanalah kami berkenalan. Hampir setiap pagi dan petang kami bertemu lalu mengobrol apa saja. Dari percakapan intens tersebut saya tahu Yusuf memiliki wawasan yang luas. Ia, misalnya, dapat menjelaskan dengan baik biota laut yang ada di sekitar Perairan Sebatik karena rajin menonton National Geographic Channel, akunya.
Hal lain yang membuat saya betah berlama-lama mengobrol dengan Yusuf adalah perspektifnya dalam memahami hubungan masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia. Mungkin bukan hanya Yusuf, saya rasa banyak masyarakat Pulau Sebatik yang memiliki cara pandang cerdas dalam menilai relasi kedua negara. Masyarakat di perbatasan memaknai hubungan mereka dengan sederhana. Mereka menganggap interaksi mereka sehari-hari sebagai sebuah simbiosis mutualisme. Kebutuhan bahan pokok warga Indonesia terpenuhi dari negara jiran, sebaliknya kebutuhan produksi industri di Tawau dan Sabah, Malaysia sebagian didapatkan dari perairan dan kebun-kebun di Pulau Sebatik bagian Indonesia. Sesederhana itu. Mereka tak pernah memikirkan bermacam konflik yang pasti akan menarik urat emosi yang berlebihan.
“Saya juga heran, masyarakat di kota selalu ribut kalau ada masalah di perbatasan. Padahal kami disini tenang-tenang saja. Walau ada masalah, kami tetap bersaudara”, Jawab Yusuf  ketika saya menanyakan perihal reaksi masyarakat perbatasan ketika ada konflik yang muncul diantara kedua negara.
Tentu kita masih ingat, bagaimana masyarat di pusat-pusat kota akan segera bereaksi apabila media mulai mengompori dengan isu konflik kedua negara yang selalu berulang-ulang. Pencaplokan wilayah, klaim budaya bangsa dan yang terbaru, olok-olokan yang sempat dilontarkan kepada mantan pemimpin negara kita seakan menjadi legitimasi bagi kita untuk segara marah lalu saling menghina. Kalau sudah begitu pekikan “Ganyang Malaysia!” akan kembali ramai diteriakkan. Seolah-olah Kalimat andalan Presiden Soekarno tersebut lahir dari masalah sepele saja.
Tapi coba bayangkan kembali, kemana kita disaat hubungan tersebut sedang baik-baik saja? Pernahkah kita sekedar untuk tahu, lebih-lebih mencoba mencintai segala hal yang diklaim negara tetangga tersebut. Lagu Rasa Sayange misalnya, sebelum dipakai sebagai backsound promo pariwisata Malaysia, pernahkah kita menyanyikannya lagi. Saya rasa tidak. Rasa Sayange menjadi semacam mayat hidup, ia terbenam di salah satu rak di Lokananta, Kota Solo, tanpa pernah diputar lagi.
Belum lagi masalah pulau-pulau kecil di perbatasan milik kita yang sudah terlanjur beralih menjadi bagian dari teritorial Malaysia. Sebelum pulau tersebut lepas, pernahkah kita mengetahuinya. Sipadan dan Ligitan baru diketahui sesaat sebelum konflik ini akan diajukan ke meja Mahkamah Internasional yang lantas mengalahkan kita. Pemerintah dan juga tiap individu di negara ini tak cukup peduli dengan apa yang telah dipunyai. Ketika negara lain melakukan effective occupation terhadap wilayah tersebut, kita hanya bisa gigit jari dibuatnya.
Saya tak pernah cukup bangga dengan nasionalisme yang dibangun oleh negara kita ini. Indonesia mengajarkan warganya mencintai negara dengan cara yang dangkal. Mencintai negara dengan cara artifisial semata adalah cara yang mudah namun rapuh menurut saya. Nasionalisme yang seharusnya ditanamkan oleh negara adalah rasa cinta tanah air karena tanah air itu sendiri mencintai kita. Dengan cara apa? Ya dengan jalan pemenuhan jaminan hidup warga yang memang sudah diatur oleh konstitusi kita.
Seberapapun saya senang mengobrol dengan Yusuf, saya sempat kecewa sekaligus khawatir ketika ia begitu membanggakan negara tetangga. Baginya, Malaysia adalah negara ideal untuk ditempati karena kehidupan warganya telah terjamin dengan pasti. Kacaunya warga negara kita di perbatasan, seperti Yusuf dan kawan-kawanya pun seakan lebih dekat kepada Malaysia ketimbang Indonesia. Jangan sampai budaya dan tanah kita sudah diklaim, warga negara kita pun ikut-ikutan dicaplok. Sungguh mengerikan membayangkan hal tersebut.
Saya kira kunci keluar dari semua ini adalah perhatian lebih. Bukan hanya dari negara tentunya, tapi juga dari tiap-tiap diri kita, pemilik negara ini.

I Remember Mocca Live In Concert: Konser Perdana Mocca Pasca Vakum

Image

I Remember Mocca Live In Concert | Friday 22nd June 2012 | @WoodsyGab Foodcourt Makassar

Setelah vakum sejak sekitar setahun yang lalu, Mocca akan kembali mengadakan konser reuni mereka di beberapa kota. Hal ini dilakukan setelah sang vokalis, Arina berkesempatan kembali mengunjungi Indonesia. Memang saat ini Arina lebih memilih menjadi seorang ibu rumah tangga. Setelah menikah Ia memutuskan untuk menetap di Long Beach, Amerika Serikat bersama sang suami. Dan beruntunglah Kota Makassar karena dipilih Mocca sebagai kota pertama tempat pelaksaan konser mereka pasca sang vokalis pulang.

Bertempat di WoodsyGab Foodcourt Makassar, Mocca siap mengobati rasa rindu semua Swinging Friends (sebutan untuk para fans setia Mocca) yang sudah membuncah lewat sebuah Konser bertajuk I Remember Mocca Live In Concert. Sedianya konser akan dilaksanakan mulai pukul 9 malam. Namun sebelum Arina (vokal/flute), Riko (Gitar), Toma (Bass) dan Indra (drum) beraksi di atas panggung mini, para penonton terlebih dulu disuguhi sebuah film dokumenter berjudul Life Keeps On Turning. Film bergenre rockumentary (rock documentary) ini bercerita banyak tentang saat-saat terakhir Mocca waktu akan memutuskan untuk vakum di tahun 2011 lalu. Semua gambaran perasaan para Swinging Friends juga personel Mocca tergambar di film berdurasi kurang lebih 80 menit ini.

Image

Konser dibuka dengan pemutaran film Life Keeps On Turning

Selepas itu, MC langsung memanggil keempat personel Mocca yang memang telah bersiap di tengah-tengah penonton. Suara penonton langsung membahana memenuhi ruangan WoodsyGab yang memang tidak terlalu luas.

“Halo, apa kabar Makassar?” Sapaan pertama Arina yang langsung ditimpali tepuk tangan meriah oleh semua penonton.

“Makassar selalu memberikan kesan indah kepada kami, terutama kalian semua dan juga makanan ringannya yang selalu membuat kangen.” Lanjut Arina

Setelah sapa kangen tersebut Mocca baru beraksi. What If langsung dimainkan sebagai lagu pembuka dilanjutkan dengan I Think I’m In Love yang langsung menghadirkan singalong dari penonton. My Only One dimainkan selanjutnya sebelum MC kembali masuk untuk bertanya-tanya perihal kepulangan Arina.

“Saat ini saya memang sedang menetap di Amerika bersama suami. Tapi alhamdulillah ada kesempatan untuk pulang. Beruntunglah Makassar karena menjadi kota pertama tempat konser perdana kami setelah vakum tahun lalu.” Terang Arina soal konser reuni mereka tersebut.

Lagu selanjutnya setelah sesi tanya-tanya tersebut adalah Hanya Satu, lagu berbahasa Indonesia yang menjadi soundtrack film Untuk Rena.  Kemudian, kembali sebuah lagu yang menjadi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah, I Remember. Kedua lagu tersebut, walaupn tenang namun menghadirkan cukup banyak singalong dari penonton.

Konser semakin intim saat This Conversation dibawakan. Selain bernyanyi bersama, beberapa pasang penonton terlihat semakin mesra. Lalu Arina mengajak semua penonton untuk bernyanyi bersama di lagu Do What You Wanna Do. Jelas saja penonton tak ragu untuk bernyanyi saat disodorkan mic.

“Ini yang membuat kami selalu ingin kembali bermusik. Terimakasih karena telah bersemangat untuk terus mendukung kami.” Kata Arina kepada seluruh penonton yang sungguh bersemangat malam itu.

Lagu tentang pemuja rahasia, Secret Admirer dimainkan selanjutnya. Hyper Ballad, lagu dari musisi nyentrik Bjork pun turut dibawakan. Lagu ini dimainkan dengan rasa berbeda sesuai dengan musik khas Mocca. Setelah lagu Me And My Boy Friend dan Life Keeps on Turning semua personel Mocca sudah tampak ingin pamit untuk mengakhiri konser. Tentu saja ini ritual klasik musisi pada setiap konser. Penonton yang belum rela untuk melihat konser berakhir akan meminta tambahan lagu. Mocca mengabulkan encore. Dua lagu tambahan pun dimainkan. Lagu Swing It Bob menjadi penutup konser. Tiga penonton wanita beruntung diajak bernyanyi oleh Arina diatas panggung pada lagu tersebut.

“Terimakasih sudah datang. Terimakasih sudah bernyanyi bersama kami. Terimakasih juga karena terus mendukung kami. Konser hari ini tak akan berarti tanpa dukungan kalian. Sampai berjumpa lagi.” Tutup Arina, sebelum meninggalkan panggung dan diikuti seluruh personel Mocca yang lain.

ImageImageImage

Total tujuh belas lagu dimainkan Mocca pada konser malam itu. Permainan seluruh personel sungguh prima. Suara Arina yang lembut dan selalu menyenangkan masih terjaga. Semua penonton terlihat puas dengan pertunjukan tersebut. Pukul 12 malam konser berakhir. Selanjutnya Mocca akan tampil di Singapura sebelum melaksanakan konser tunggal mereka di Bandung.

*Sumber gambar: @WoodsyGab

KKN Pulau Sebatik

Image

Penampakan Pulau Sebatik. Atas: Malaysia, bawah: Indonesia

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pulau Sebatik. Pertama kali tahu program ini sekitar setahun yang lalu. Saya langsung tertarik untuk mengikuti program ini saat itu juga. Tetapi berita selanjutnya mengatakan bahwa program ini hanya dikhususkan untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP). Semangat langsung ciut waktu itu. Lalu kabar program ini tenggelam sebelum muncul kembali sebulan sebelum dilaksanakannya KKN reguler angkatan ke-82 tahun ini. Kali ini kabarnya kembali menggembirakan bagi saya. Kepala UPT (Unit Pelayanan Teknis) KKN Unhas, Pak Hasrullah mengatakan program KKN Pulau Sebatik ini dapat diikuti oleh semua mahasiswa dari semua fakultas yang ada di Unhas. “Surat pemberitahuan akan segera dikirim ke setiap fakultas”, kata Pak Hasrullah waktu itu.

Saking tertariknya, hampir setiap pekan saya mengecek secara langsung kabar KKN ini di kantor UPT KKN Unhas. Tidak hanya itu, saya juga berhasil memengaruhi beberapa teman untuk turut serta. Kalau ada teman kan tambah seru tuh.

Namun kepastian pelaksanaan program ini tak kunjung mendapatkan titik terang. Beberapa pegawai UPT yang saya tanyakan hampir setiap pekan juga tidak berani memberikan jadwal pasti, kapan KKN ini akan dilaksanakan. Bahkan hingga pendaftaran KKN Reguler mulai dibuka, tak kunjung ada surat pemberitahuan tentang program ini yang dikirim ke fakultas saya. “Ya sudahlah, mungkin belum nasib saya untuk ber-KKN di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia itu”, gumam saya.

Lalu kabar mengejutkan itu datang disaat injury time. Akhirnya program ini menemui titik kepastian pada masa pembekalan akhir KKN Reguler, seminggu sebelum penempatan di lima kabupaten. “Yang berminat mengikuti KKN di Pulau Sebatik, silahkan mendaftarkan namanya di kantor UPT”, kata Pak Djumran, salah satu pegawai UPT KKN Unhas ditengah berlangsungnya pembekalan KKN Reguler. Tanpa pikir panjang, saya langsung meninggalkan ruangan pembekalan KKN Reguler dan bergegas menuju kantor UPT KKN Unhas. Dengan gerak cepat saya langsung membubuhkan nama saya di lembaran daftar calon peserta KKN Pulau Sebatik. Saya pendaftar nomor empat waktu itu. Nama yang telah terdaftar tadi bukan berarti otomatis akan diberangkatkan. Saya dan beberapa calon peserta lainnya harus mengikuti tahap seleksi karena hingga hari terakhir masa pendaftaran, ada 65 mahasiswa yang berminat mengikuti KKN ini. Sedangkan kuota yang tersedia hanya untuk 15 orang.

Diadakanlah seleksi dalam bentuk wawancara yang dilaksanakan oleh empat orang yang akan menjadi pendamping kami selama di Pulau Sebatik nanti. Tes wawancara ini dilaksanakan selama dua hari untuk mewawancarai 65 peminat. Saya mendapat jadwal wawancara di hari pertama. Beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan alasan dan apa yang ingin kami lakukan disana nantinya ditanyakan. Saya pun dengan tenang menjawab bahwa ada beberapa alasan mengapa saya ingin ber-KKN di Pulau Sebatik. Saya memiliki kenangan tersendiri dengan pulau ini. Sewaktu kecil, saya pernah kesana untuk berkunjung ke rumah seorang keluarga. Saya juga pernah menulis sebuah karya tulis tentang beberapa permasalahan yang dihadapi Pulau Sebatik sebagai salah satu pulau terluar Indonesia. Dan hasil akhir yang saya inginkan dari kunjungan kesana adalah, semoga saya bisa mendapatkan sebuah permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan tugas akhir atau skripsi nantinya. Hanya sekitar setengah jam sesi wawancara berlangsung. Panitia seleksi berjanji untuk mengeluarkan hasil tes wawancara secepatnya.

Dua hari kemudian hasil tes sudah diumumkan. Saya berada di fakultas waktu seorang teman mengabarkan bahwa nama saya tercantum sebagai salah satu dari lima belas peserta KKN Pulau Sebatik yang baru saja dikeluarkan. Tentu saja saya senang. Tapi saya belum yakin betul waktu itu. Langsung saja saya bergegas menuju kantor UPT KKN Unhas untuk melihat sendiri pengumuman tersebut. Dan benar saja, saya terpilih. Alhamdulillah, terimakasih kepada semua yang telah mendukung dan mendoakan.

Selasa, 26 Juni ini kami akan berangkat menuju Pulau Sebatik. Kabar menyenangkan selanjutnya adalah kami akan menggunakan moda kapal laut untuk menuju kesana. Sudah dua tahun saya tidak naik kapal laut. Perjalanan dengan kapal laut selalu memberikan kesan tersendiri. Selalu saja ada cerita yang bisa dibagi disetiap perjalanan dengan moda ini.

Doakan saja perjalanan kami lancar. Dan saya berjanji untuk membagi cerita selama sebulan di Pulau Sebatik untuk semua disini. 😀

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono, 1989

Native Narrative Showcase

Image

Lazyroom (dengan bangga saya mengatakan: ini adalah band kawan-kawan saya :D) siap menggelar sebuah showcase guna peluncuran debut album yang berjudul Native Narative melalui pentas yang bertajuk “Native Narative Showcase: Lazyroom 1st Album” pada tanggal 22 Juni 2012. Album ini akan digelar di Langgeng Art Foundation Yogyakarta, yang nantinya akan menyuguhkan beberapa kolaborasi dan visual art. Di showcase ini Lazyroom berbagi panggung dengan Belkastrelka dan Wafiq Giotama dari band Answer Sheet.

Di debut album ini, Lazyroom bekerjasama dengan label Patetico Records, sebuah label yang berbasis di Philadelphia, USA yang telah bekerjasama dengan artis-artis macam: A Place To Bury Strangers (NYC), Malory (Germany), Ceremony (VA), Airiel (Chicago), Hartfield (Japan), dan The Manhattan Love Suicides (UK). Sementara untuk distribusi CD di Indonesia Lazyroom menggandeng Paperplane Records, yang juga merilis album-album dari band twee pop Brilliant at Breakfast.

Yang sedang berada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, sudilah kiranya untuk mampir sejenak menyaksikan pertunjukan menarik ini. Gratis tis tis kok :D.

Ke Malang Kami Kan Pergi #2

Image

Bersama Arashi, metalhead Universitas Brawijaya

Hari pertama pelaksanaan Lingkar Riset Mahasiswa Hukum Indonesia (LRMHI) di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, saya sudah mendapatkan dua ajakan untuk menonton konser musik. Yang pertama datang dari Pandi, teman SMA yang sekarang sedang berjuang untuk menjadi seorang sarjana di Kota Malang. Ia mengajak untuk menonton konser band kesayangan kami bersama yaitu Sheila On 7 yang akan manggung di Universitas Negeri Malang. Ajakan kedua lebih menggiurkan datang dari Arashi, seorang metalhead asal Gorontalo yang tersesat di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia memberi tahu bahwa Seringai, salah satu unit metal terbaik negeri ini akan hadir menjadi penampil utama pada event Kickfest Malang 2012 di hari kedua. Tentu saja saya lebih memilih ajakan yang kedua. Saya terlanjur kesengsem dengan penampilan Seringai yang pertama kali saya tonton di helatan Rock In Celebes tahun 2011 lalu.

Tapi tentu saja halangan terbesar bagi kami untuk menghadiri gelaran Kickfest datang dari jadwal acara LRMHI yang tidak memungkinkan kami untuk kemana-mana. Siang hari saya sudah membuat sebuah permufakatan jahat dengan Arashi: Kami akan kabur dari tempat acara untuk hadir di arena moshing Kickfest Malang. Namun apa nyana, Kami batal datang ke Konser Seringai. Saya masih sibuk untuk mendampingi peserta pada sebuah diskusi. Sedangkang Arashi dihimbau untuk tidak pergi kemana-mana, karena divisinya masih bertanggung jawab atas berlangsungnya acara. Ah, sungguh sayang.

Setelah batal ke Kickfest dihari kedua saya malah kembali mendapat ajakan untuk kesana dihari selanjutnya oleh dua orang teman dekat semasa SMA. Untung saja malam itu seluruh rangkaian kegiatan LRMHI telah usai. Setelah makan malam bersama dan sudah memastikan bahwa penginapan kami untuk dua malam kedepan telah aman, saya, Pandi dan Septian langsung bergegas ke arena Kickfest Malang yang berlangsung di Lapangan Rampal. Sesampainya disana kami langsung menuju both Starcross yang sudah dibanjiri oleh para Sheila Gank (sebutan untuk para fans Sheila On 7). Saya tidak terlalu lama di both itu. Tujuan saya ke KickFest adalah untuk mencari sebuah tas selempang kecil untuk memudahkan perjalanan selama di Malang dan juga untuk bekal KKN nanti. Saya mendapatkan tas tesebut di both Screamous, tentu dengan harga miring.

Hanya sekitar dua jam disana, kami pun beranjak untuk mencari makan. Bersama beberapa mbak-mbak Sheila Gank, kami memilih Nasi Goreng Gandrung untuk dijajal  di tengah malam itu. Konon nasi goreng tersebut telah menjadi waralaba yang sudah memiliki cabang di berbagai daerah. Saya yang belum tahu apa-apa tentang Nasi Goreng Gandrung memilih aman saja. Saya dan Septian memilih Nasi Goreng Gandrung, sedangkan yang lain memilih varian lainnya. Overall nasi goreng ini enak. Rasanya serba pas dengan lidah saya. Lagipula harganya cukup murah meriah, hanya Tujuh Ribu Rupiah untuk sepiring Nasi Goreng Gandrung. Dan yang paling mengenakkan, Nasi Goreng Gandrung plus Jus Jeruk malam itu ditraktir oleh mbak-mbak Sheila Gank yang saya lupa namanya. Aduh, maafkan saya mbak. Maafkan saya.

Selepas dari Warung Nasi Goreng Gandrung, Septian langsung mengantar saya ke penginapan. Pukul 11 malam saya sudah terlalu mengantuk untuk diajak berkeliling Kota Malang. Sebenarnya masih ada beberapa destinasi tengah malam yang ingin diperlihatkan oleh Pandi dan Septian. Namun apa daya tenaganya tak sampai. Maka berakhir pula pertemuan kami di malam itu. Terimakasih kepada Pandi dan Septian yang sudah menjamu saya. Kapan-kapan kalian yang harus ke Makassar 🙂

Senin (04/06/2012), sehari sebelum kembali ke Makassar kami (Saya, Nur dan Rinanti) menyempatkan diri untuk mengunjungi Kota Wisata Batu. Berbekal kenekatan dan bertanya sana-sani, akhirnya sampai juga kami di Jatim Park II. Lokasi wisata ini berjarak 45 menit perjalanan dari Kota Malang.udara sejuk langsung menyapa kami ketika turun dari angkot. Udara di Kota Batu ini mirip-mirip lah dengan Malino. Hanya saja Kota ini betul-betul didesain untuk menjadi kota wisata. Insfrastruktur wisata kota ini cukup mengagumkan. Di Jatim Park II saja terdapat Batu Secret Zoo yang nyaman, Museum Satwa yang mengingatkan saya dengan film Night at The Museum dan juga penginapan unik berbentuk pohon bernama Pohon Inn.

Tempat pertama yang kami jajal adalah Batu Secret Zoo. Tempat ini begitu nyaman. Memadukan kebun binatang, cafe dan resto juga wahana permainan keluarga. Kebun binatang yang biasanya memiliki kesan kotor dan tidak terawat sama sekali tidak terlihat di tempat ini. Bagi saya, yang paling menyenangkan dari tempat ini adalah saya bisa melihat hewan-hewan yang belum pernah saya lihat secara langsung sebelumnya. Hewan-hewan yang sering muncul di  film-film kartun juga banyak terdapat disini. Pokoknya Batu Secret Zoo ini sangat saya rekomendasikan bagi yang akan berkunjung ke Kota Malang.

Perjalanan kami berlanjut di Museum Satwa. Museum ini dirancang secara apik dan benar-benar “bertaraf internasional.” Dari luar bentuk bangunannya dirancang dengan gaya eropa kuno. Ketika masuk, kita langsung disambut dengan rangka hewan raksasa Dinosaurus yang gagah. Rangka dinosaurus inilah yang mengingatkan saya dengan film Night at The Museum. Tidak hanya itu, diorama hewan-hewan yang telah diawetkan pun sangat menarik untuk disimak disini. Hanya satu jam saja kami di tempat ini. Waktu terlalu banyak kami habiskan di Batu Secret Zoo. Malam sudah hampir datang. Itu berarti perjalanan kami akan berlanjut ke Batu Night Sensation (BNS).

Hari sudah malam ketika kami sampai di BNS. Kami sempat terkecoh oleh seorang anak kecil yang mengatakan jarak antara Jatim Park II dengan BNS itu dekat saja. Ternyata perkiraan anak itu benar, sangat dekat untuk ukuran dia yang sering berjalan kaki sepertinya. Sedangkan bagi kami, jarak yang sepertinya sejauh lebih dari 1 kilometer itu sungguh berat. Apalagi sudah seharian ini kami berjalan mengelilingi Jatim Park II. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai juga kami di BNS yang sudah ramai dibicarakan itu. Setelah membayar tiket masuk seharga sepuluh ribu rupiah per orang kami pun siap menjelajah berbagai wahana permainan disana. Tapi ternyata semangat kami telah habis diperjalanan tadi. saya sudah terlanjur tidak berselera menghabiskan teriakan suara di beberapa wahana yang terlihat menantang. Rinanti juga sudah cukup syok setelah diguncang wahana Tsunami di Batu Secret Zoo tadi. Jadilah kami hanya bermain di satu wahana yang tentram saat dimainkan, yaitu Sepeda Terbang. Dengan wahana ini kita bisa melihat keindahan Kota Batu dan Malang dari ketinggian.

Image

Rinanti dan Nur di depan Batu Secret Zoo

Image

Bercengkrama dengan burung-burung cantik

Image

Raja Singa 😀

Image

Museum Satwa yang megah

Setelah menikmati Keindahan Kota Batu dan Malang dengan Sepeda Terbang, kami langsung beranjak menuju toko oleh-oleh yang berada dibagian luar BNS. Disana kami memilih penganan khas Kota Malang untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk teman-teman di Makassar. Setelah dirasa cukup, langsung saja kami menuju terminal terdekat untuk selanjutnya kembali ke Malang. Untung saja masih ada angkot menuju Kota Malang di Pukul 9 malam itu. Sebelum pukul 10 kami sudah tiba di penginapan. Setelah santap malam, kami langsung terlelap karena esok hari akan menuju Surabaya untuk selanjutnya kembali ke Makassar.

Selasa (05/06/2012), hangat matahari Makassar sudah kembali kami rasakan. Benar kata Rinanti pada saat konferensi di Universitas Brawijaya, “Malang memang sejuk, tapi kami tetap harus kembali kepada hangatnya Makassar.” Perjalanan 4 hari kami benar-benar baru akan sempurna ketika sudah kembali ke rumah.

Hal pertama yang harus saya lakukan sesaat sampai di asrama adalah mencongkel pintu kamar. Ternyata oh ternyata kunci kamar saya tertinggal di penginapan di Malang bersama sebuah celana denim pendek dan, cangcut cuk. Mama yora…

Ke Malang Kami Kan Pergi #1

Image

Kampus Universitas Brawijaya dengan latar pegunungan yang agung

(Mungkin) sudah menjadi kebiasaan manusia Indonesia, mengerjakan sesuatu ketika sudah didesak oleh waktu. Kami, saya bersama Rekan Nur dan Rinanti baru mengebut proposal permohonan dana untuk kegiatan Lingkar Riset Mahasiswa Hukum Indonesian (LRMHI) di Universitas Brawijaya Malang sehari sebelum waktu keberangkatan. Itupun setelah diberitahu oleh Fardika, panitia yang menjadi pendamping kami selama di Malang, kalau waktu pembayaran akomodasi peserta tinggal beberapa jam lagi. Dengan semangat The Power of Kepepet dan atas kebaikan hati pimpinan fakultas, ACC proposal kami dipermudah. Langsung saja kami memesan tiket pesawat via Sri Rahayu Bond yang memang sudah menjadi langganan. Jadilah kami berangkat ke Malang. Terimakasih kepada semua yang telah mempermudah.

Esoknya (01/06/2012), setelah semua urusan kampus selesai kami bersiap untuk ke Bandara Sultan Hasanuddin. Pesawat kami akan meninggalkan Makassar menuju Surabaya pukul 5 sore. Setelah melalui penerbangan yang lancar selama 1 jam, kami tiba di Bandara Juanda. Magrib baru saja berlalu ketika kami tiba. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Malang dengan travel, terlebih dulu kami mengisi perut yang sedari tadi sudah keroncongan. Langsung saja saya memesan semangkuk Soto Lamongan yang sudah kesohor itu. Soto enak ini mengingatkan saya pada soto yang menjadi langganan saya di Pasar Malam Kota Tarakan. Hanya saja potongan-potongan ayam pada Soto Lamongan Bandara Juanda ini lebih besar dan tentu saja harganya jauh lebih mahal.

Setelah semua kenyang, kami siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Malang yang kata sopir travelnya akan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Tidak banyak yang bisa dilihat dari perjalanan di malam hari. Mau tidur tapi saya paling tidak bisa tidur kalau sedang dalam perjalanan. Jadilah dua jam perjalanan tersebut menjadi membosankan. Tapi untung saja perjalanan lancar tanpa hambatan. Pukul 9 waktu Malang kami sudah tiba di tempat penginapan.

Istirahat yang saya harapkan sejak sore urung menjadi kenyataan. Baru beberapa menit beristirhat di kamar, saya sudah diajak untuk berwisata kuliner oleh para kolega saya sesama pimpinan Ikatan Penulis Mahasiswa Hukum Indonesia (IPMHI). Mie Setan yang menjadi incara utama sudah bablas. Akhirnya kami memilih tempat makan terdekat yaitu Sari Laut dan Sea Food Depan Gereja Ijen. Saya main aman saja dengan memesan ayam kampung lalapan. Sementara yang lain memesan makanan yang sepertinya belum mereka makan. Yang paling menggembirakan dari makan malam ini adalah Mas Sandi dari UII Jogjakarta berbaik hati menjadi sponsor utama. Semua makanan kami dia yang membayarkan. Mas Sandi ini memang baiknya minta ampun dah.

Ternyata kebaikan Mas Sandi tadi ada apa-apanya. Sehabis makan malam itu, kami tidak dipersilahkan untuk langsung beristirahat. Olehnya, kami diajak untuk menyelesaikan Laporan Pertanggungjawaban pengurus IPMHI Periode 2011-2012. Mau tak mau, saya harus ikut mengerjakan LPJ tersebut. Lagipula hal itulah yang menjadi tujuan utama ke Malang: Melaporkan Pertangunggungjawaban Pengurus IPMHI Periode 2011-2012 di depan Forum Musyawarah Nasional IPMHI 2012.

Saya baru bisa tidur nyenyak sesat sebelum adzan subuh berkumandang. Sementara jadwal acara mengharuskan kami untuk bersiap-siap pukul 7 pagi. Jadilah jatah tidur saya pada hari Pertama di Malang cuma 2 jam. Sungguh mata masih berat ketika panitia sudah mulai mengetuki pintu peserta. Apa mau dikata, frase Sakit Memang Tapi Harus yang mulai melegenda itu harus berlaku pada saya.

Selanjutnya, kami mulai diantar ke tempat acara yaitu Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Pagi itu akan dilaksanakan prosesi pembukaan acara lalu dilanjutkan dengan Seminar Nasional tentang Peranan Lembaga Riset Mahasiswa. Seminar ini akan berkesinambungan dengan Workshop Metode Penelitian yang dilaksanakan sehari sesudahnya. Untuk penjelasan lengkap Seminar Nasional dan Workshop Penelitian ini akan dipaparkan oleh rekan Nur dan Rinanti pada transfer of knowledge di depan keluarga besar LP2KI, yang Insya Allah akan dilaksanakan bersamaan dengan Pelepasan KKN angkatan saya. Semangat ya rekan Nur dan Rinanti 🙂

Image

Suasana MUNAS IPMHI 2012

Image

Para peserta LRMHI yang berasal dari 14 universitas

Di sisi lain dari kegiatan ini, saya bersama rekan pimpinan IPMHI yang lainnya masih sibuk dengan persiapan MUNAS IPMHI 2012. MUNAS dilaksanakan berselingan dengan pelaksanaan seminar dan workshop. Singkatnya sih, LPJ kami berjalan lancar walau ada beberapa hambatan yang tentunya perlu diperbaiki oleh pengurus IPMHI berikutnya. Untuk selanjutnya kepengurusan IPMHI akan dipegang oleh teman-teman dari UNS Surakarta, Unhas Makassar, UII Jogjakarta, Unmul Samarinda dan Unnes Semarang. Sukses untuk pengurus baru IPMHI.